Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Memasukan Amanat ke Dalam Novel

 Cara Memasukan Amanat ke Dalam Novel

Cara Memasukan Amanat ke Dalam Novel
pikist.com


Menjadipenulis.com – Amanat sering sekali disebutkan oleh guru-guru kita ketika mengajar di kelas. Dalam setiap soal yang berkenaan dengan cerita, pasti selalu ada hubungannya dengan amanat atau pesan moral. Bahkan banyak di antara para pegiat literasi yang berkata bahwa sebuah cerita fiksi itu harus mengandung amanat. Lantas, amanat itu apa?

Amanat adalah suatu pesan, baik tersurat ataupun tersirat yang ada di dalam suatu media. Dalam hal ini tentu saja media yang dimaksud adalah tulisan. Meski novel atau cerita fiksi umumnya dibuat untuk menghibur, kenyataannya banyak pembaca yang bisa terpengaruh oleh sesuatu yang dia baca. Maka dari itu, kita sebagai penulis memiliki beban moral yang cukup tinggi ketika menuliskan sebuah karya. Mau tidak mau, penulis harus pintar dalam menyampaikan gagasan kepada para pembaca.

Berikut ini adalah cara memasukan amanat ke dalam sebuah novel, agar amanat atau pesan tersebut tersampaikan dengan baik.

1. Pastikan Amanat Disampaikan Lewat Fenomena yang Ada

Di dunia ini, ada berbagai cara dalam menyampaikan atau memberitahukan sebuah amanat. Tak terkecuali lewat fenomena yang ada. Sebagai penulis, alangkah lebih baiknya jika kita memaparkan pesan lewat sesuatu yang bisa difahami pembaca. Misal kita ingin menyampaikan amanat tentang bullying. Tentu saja, kita bisa menunjukkan dahsyatnya dampak bullying yang pernah atau sedang terjadi. Para pembaca akan lebih percaya jika mereka mendapatkan pesan itu dari fenomena yang ada, ketimbang dari narasi yang disampaikan oleh narator (dalam hal ini adalah penulis).

Contoh:

a. Kita harus menghindari sikap menghina, karena dapat merugikan orang lain.

Kira-kira kalimat di atas termasuk soft nggak dalam sebuah karya fiksi? Kalau menurut saya, kalimat di atas terkesan menggiring pembaca. Dan pembaca biasanya kurang suka dengan perlakukan semacam itu.

b. Sita berlari kencang saat diteriaki pelacur. Dia berusaha meredam tangis dengan cara mengurung diri di kamar mandi sekolah, lantas mengguyur seluruh badannya dengan air dingin. 

Perhatikan contoh di poin B. Di narasi tersebut sama sekali tidak ada ucapan: Jangan membuli! Atau: Ayo hentikan mem-bully! Namun dari narasi di poin B tersebut, kita mengerti bahwa menghina, memojokkan, atau mem-bully bisa membuat orang lain terluka. Secara otomatis, kita akan berpikir untuk tidak melakukan hal buruk itu kepada orang lain.

2. Pastikan Amanat Disampaikan Oleh Tokoh

Kadang, narator ingin ikut campur untuk menyampaikan gagasan secara langsung. Padahal sebenarnya, misi kita untuk menunjukkan suatu pesan telah di-handle oleh tokoh di novel kita. Maka dari itu, kita harus terbiasa untuk menyampaikan amanat dari mulut si tokoh. Misal ada amanat dalam percakapan antara tokoh yang satu dan lainnya.

Contoh:

Sita memandang Randi yang tengah menunduk. Dia kemudian mengusap punggung cowok itu dengan sangat lembut. “Kamu kenapa?”

Randi mendongak. Dia mengulas senyum tipis. “Hanya sedang ingat Ibu.”

Sita duduk di sisi cowok itu, dia menggenggam tangan Randi begitu erat. “Ran, nggak ada yang ngelarang kamu buat ingat Ibu. Tapi kalau kamu bersedih terus-menerus seperti ini, apa kamu yakin, Ibumu akan bahagia di atas sana?  Hidup ini tentang perjalanan. Apa pun rintangannya, kita harus tetap melangkah. Kamu ingat ucapan Ibumu waktu itu kan? Kata Ibumu, kamu harus tetap berjuang, ada atau tidak ada Ibu.”

Secara tidak langsung ungkapan Sita ini merupakan pesan buat kita yang misalkan telah merasakan kehilangan. Bahwa hidup harus tetap berlanjut. Bahwa hidup nggak cukup sampai sini. Akan ada hal-hal baru yang harus dijajaki. Tapi kita tidak merasa sedang digurui kan saat membaca perkataan Sita? Begitulah yang saya maksud. Pesan harus disampaikan selembut mungkin. Sehingga pembaca tidak merasa digurui.

Perbedaan Amanat dan Pesan Moral

Dulu, saya berpikir bahwa amanat dan pesan moral memiliki arti yang sama. Tapi setelah dilihat-lihat, ternyata dua kata itu berbeda, meskipun saling berhubungan. Amanat adalah pesan secara umum. Entah itu pesan baik atau pesan buruk yang bisa mempengaruhi pembaca. Sementara pesan moral sudah pasti pesan baik atau setidaknya pesan yang bisa membuka pikiran pembaca dan bisa mempengaruhi secara moral. 

Setiap penulis memiliki otoritas dalam menyampaikan amanat atau pesan moral sesuai tujuan mereka. Ketika seseorang ingin mengampanyekan suatu hal, bisa saja orang tersebut menyampaikannya secara tersirat (tersembunyi) di sebuah novel. Dan, perspektif setiap pembaca pasti akan berbeda-beda tentang amanat atau pesan moral yang ada.

Jadi, itulah cara memasukan Amanat ke dalam sebuah novel, berikut dengan perbedaan antara amanat dan pesan moral dalam karya fiksi. Dengan begitu, teman-teman bisa mulai memasukan amanat dengan cara yang lebih luwes. Tidak terkesan menggiring, atau malah menggurui. Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat berkarya. 


Posting Komentar untuk " Cara Memasukan Amanat ke Dalam Novel"