Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Kesalahan Penulis Saat memasukan Amanat Ke Dalam Novel

3 Kesalahan Penulis Saat memasukan Amanat Ke Dalam Novel

5 Kesalahan Penulis Saat memasukan Amanat Ke Dalam Novel
Needpix.com


menjadipenulis.com – Dalam penulisan novel, amanat menjadi salah satu hal penting yang harus ada. Sebab amanat termasuk ke dalam unsur yang bisa menegakkan sebuah karya fiksi. Namun, ternyata masih banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh calon penulis dalam pembuatan amanat. Lantas, apa saja kesalahan penulis saat memasukan Amanat ke dalam novel? Berikut ulasannya:

1. Amanat Terlalu Banyak

Lho, emangnya amanat terlalu banyak itu tidak boleh? Bukan tidak boleh, tetapi blunder, alias terlalu penuh. Hal itu hanya akan membuat energi kita sebagai penulis terkuras, tapi pesan yang ingin disampaikan malah tidak bisa terserap sama sekali oleh pembaca saking. Hal ini juga akan mempengaruhi ‘kedalaman’ cerita. Coba, kamu lebih senang menuliskan banyak hal, tapi dangkal? Atau menuliskan satu hal, tetapi mengakar? So, kamu pasti bisa menyimpulkan sendiri.

Dalam penulisan amanat, kita harus pandai memfokuskan satu atau dua amanat saja. Mungkin dalam proses penulisan, akan terdapat banyak amanat kecil yang tersebar (ini nggak masalah), tetapi kita harus memiliki satu amanat yang menjadi pesan pamungkas di dalam novel.

Sebagai bahan ilustrasi, coba bayangkan jika ibumu sedang membicarakan banyak hal. Ibumu berkata: Kamu harus gini, kamu harus gitu, tolong sampaikan ini, tolong sampaikan itu .... Apa yang terjadi? Kita sebagai penerima amanat malah males, kesel, jengkel, dan perasaan negatif lainnya karena terlalu banyak pesan. Amanat yang baik malah jadi tidak menarik sama sekali.

2. Isi Amanat Terkesan Menggurui

Ketika belajar di sekolah, mungkin kita nggak akan marah jika ada guru mengajari kita. Toh dia memang guru. Itu juga kewajiban kita sebagai murid untuk mendengarkan apa yang guru ucapkan demi kebaikkan kita. Pesan yang disampaikan guru biasanya akan terkesan to the point dengan ucapan. Namun, coba bayangkan jika pesan-pesan menggurui itu ada di dalam sebuah novel? Kebanyakan orang membaca novel biasanya untuk hiburan. Lalu, ternyata banyak pesan-pesan menggurui di dalam novel tersebut. Alih-alih melanjutkan membaca, biasanya kita malah jengkel dan merasa dipojokkan.

Kamu tidak boleh merokok, karena merokok itu sangat buruk untuk kesehatan tubuh!

Jangan melalukan zina, karena zina itu perbuatan yang dilaknat.

Jangan mencuri, karena mencuri itu dosa besar.

Sekilas, pesan-pesan itu sangat positif. Dengan kalimat itu, kita jadi tahu satu hal. Tapi, penyampaian yang terlalu menggurui seolah paling tahu, paling bisa, dan paling berkuasa, malah akan membuat para pembaca kabur. Mungkin di lain kesempatan, pembaca jadi nggak mau baca karya kita lagi karena isinya terlalu banyak ceramah, atau pesan yang disampaikan secara langsung. 

3. Penulis Tidak Cerdas Dalam Menyampaikan Pesan

Setiap orang bisa menyampaikan pesan. Namun, tentu saja cara tiap orang berbeda-beda. Ada yang to the point, ada yang menyampaikan dengan kalimat tersembunyi, dan lain-lain. Umpamanya, amanat dalam novel akan terlihat natural jika penulis piawai dalam menyampaikan pesan. Sementara pesan yang terlalu verbal akan membuat pembaca terganggu.

Saya mau kasih ilustrasi sedikit. Coba saya tanya. Apa yang akan kamu katakan kepada temanmu jika seandainya ada belek segede-gede gaban di ujung mata? Pasti kita bingung kan cara menyampaikan yang baik? Coba deh, tulis di komentar. Kira-kira, kalimat seperti apa yang bisa diucapkan untuk memberitahu temen kita ini. Kalau saya, mungkin akan berkata begini: 

“Eh, itu matamu merah, kenapa ya?”

Mungkin spontan, temen kita akan menggisik mata, dan hilanglah si belek itu. Saya nggak mengucapkan secara langsung kalau di matanya ada kotoran (karena takut menyinggung dan membuatnya malu), tapi bisa saja pesan saya tersampaikan saat dia menyadari ada sesuatu di matanya.

Ini sama dengan amanat di dalam novel. Kita harus menyusun sebaik mungkin sebuah pesan, tanpa terlihat monoton dan terlalu berada ‘di depan’, sehingga pembaca sendiri yang justru menemukan amanat berdasarkan perspektifnya.

Nah, itulah 3 kesalahan penulis saat memasukan amanat ke dalam novel. Bagaimana? Sudah tercerahkan bukan? Yuk berkarya lagi. Semoga novel kita nggak hanya menghibur, tetapi bisa menjadi jalan kebaikan bagi para pembaca. 


Posting Komentar untuk "3 Kesalahan Penulis Saat memasukan Amanat Ke Dalam Novel"