Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Jenis Point Of View Dalam Pembuatan Cerita Fiksi

3 Jenis Point Of View Dalam Pembuatan Cerita Fiksi

3 Jenis Point Of View Dalam Pembuatan Cerita Fiksi
wikipedia.org



Menjadipenulis.com – Point of View atau sering disebut sebagai sudut pandang merupakan hal yang sangat penting untuk dipikirkan. Sudut pandang bisa mempengaruhi berbagai hal. Seperti kebebasan bernarasi, kebebasan membuat deskripsi, serta cara menuturkan sesuatu. Cara penuturan menggunakan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga, jelas berbeda. Maka kali ini akan dibagikan 3 jenis Point of View Dalam Pembuatan Cerita Fiksi.

1. Sudut Pandang Orang Pertama

Sudut pandang orang pertama ditandai dengan penjelasan dari sudut: aku, saya, gue, Abdi, Kulo, dan lain-lain. Kita tidak bisa menyamakan cara berbicara tokoh satu dan lainnya jika menggunakan sudut pandang ini. Di sudut pandang orang pertama, kita diharuskan untuk bisa konsisten. Ketika di awal kalimat menggunakan ‘aku’, maka seterusnya harus aku. 

Contoh kalimat menggunakan sudut pandang orang pertama:

Aku harus pergi ke sekolah pagi ini. Kata Mama, sekolah itu tempat yang nyaman ketimbang rumah. Aku hanya mengangguk mendapatkan penjelasan itu. Sebenarnya, aku tidak setuju, tapi aku malas ribut. Kalau menurutku, sekolah justru tempat paling mengerikan. Aku bisa dihajar tiga sampai lima orang kakak kelas dalam satu waktu.

Tidak bisa kita begini:

Aku harus pergi ke sekolah pagi ini. Kata Mama, sekolah itu tempat yang nyaman ketimbang rumah. Gue hanya mengangguk mendapatkan penjelasan itu. Sebenarnya, saya tidak setuju, tapi saya malas ribut .....

Kita bisa membedakan contoh satu dan contoh dua. Keduanya sama-sama menggunakan sudut pandang orang pertama. Tetapi di contoh kedua, si ‘aku’ tidak konsisten. Ini akan mempengaruhi emosi yang disampaikan kepada para pembaca. 

JENIS SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA

Selama menulis novel, aku mulai mengetahui bahwa ternyata sudut pandang orang pertama dibagi lagi ke dalam beberapa bagian. Supaya lebih jelasnya, lihat penjelasan berikut:

a. POV-1 Menggunakan Satu Tokoh

Dalam penggunaan sudut pandang ini, kita hanya menggunakan satu tokoh dalam penceritaan. Misalkan di novelmu ada empat orang tokoh. Namanya Randi, Randa, Randu, Rando. Nah, kamu misal memilih menulis dari sudut pandang si Rando dari awal sampai akhir. 

Contoh:

Namaku Rando. Aku memiliki sodara bernama Randi, Randu dan Randa. Kata orang-orang, aku paling ganteng dibanding ketiga sodaraku. Sebenarnya, aku tidak begitu setuju dengan ucapan mereka. Toh kalau dari segi sifat, sifatku justru paling buruk. Aku yang pemarah, pemalas, dan kadang-kadang suka berbohong.

Nah, nanti di bab selanjutnya, kita sebagai penulis tetap konsisten menggunakan sudut pandang ‘aku’. Aku di sini adalah Rando. 

b. POV-1 Menggunakan Dua Tokoh atau Lebih

Kamu pernah membaca novel yang dituturkan menggunakan beberapa tokoh dengan sudut pandang ‘aku’? Yaps, ini termasuk ke dalam sudut pandang orang pertama tetapi menggunakan dua tokoh atau lebih. Misalkan kita memiliki dua tokoh dalam sebuah novel. Setiap bab, bisa jadi kita menggunakan sudut pandang berbeda dari ke kedua tokoh itu. Katakanlah di bab satu menggunakan sudut pandang Rina, di bab dua menggunakan sudut pandang Ranu. Dan begitu seterusnya. Kita bisa membuat novel dengan sudut pandang bergantian antara tokoh satu dan tokoh dua di setiap bab. 

Namun, kita harus berhati-hati jika menggunakan sudut pandang ini. Sebab tokoh yang satu dan yang lainnya harus punya pembeda dari cara bertutur. Ini disebabkan karena kita menggunakan sudut pandang aku dengan tokoh berbeda-beda. 

Sebagai contoh, misal si tokoh pertama berasal dari Jakarta, kemudian si tokoh kedua berasal dari Sunda. Kita bisa saja memasukkan unsur-unsur kedaerahan dari setiap tokoh. Misal si tokoh yang dari Jakarta selalu menggunakan sudut pandang dengan kata-kata ‘gue’. Kemudian yang dari sunda sering menggunakan sudut pandang ‘aku’ secara umum, tapi ada ciri khas lain. Misalkan sering ada tambahan kata ‘mah, tah, atuh’. 

Untuk pembentukan ciri khas masing-masing tokoh, itu diserahkan kembali kepada penulis. Mungkin ciri khas juga akan berpengaruh terhadap pergerakkan cerita, plot, konflik, setting, dan lain-lain.

Kelemahan Sudut Pandang Orang Pertama  

Salah satu kelemahan yang sering terjadi ketika menulis menggunakan sudut pandang orang pertama lebih kepada kuasa seseorang dalam mengetahui aktivitas orang lain. Padahal, ketika seseorang menggunakan kata ‘aku’, secara otomatis tidak mungkin tahu apa yang terjadi di luaran sana.

Contoh:

Kemarin, aku ke rumah Nenek. Aku memergoki Nenek menangis. Jujur, aku ikut bersedih, sebab aku tahu apa yang membuatnya sedih. Nenek sedih karena cucu-cucunya tidak pernah ada yang menemani, kecuali aku.

Sekilas, kalimat itu terkesan biasa saja. Tapi sebenarnya, ada satu hal yang telah didobrak, yaitu sok tahunya si ‘aku’ terhadap penyebab neneknya menangis. Seseorang tidak mungkin tahu isi hati dari orang lain, kecuali si Nenek bercerita ke sosok ‘aku’ tentang penyebab dirinya menangis.

Hal semacam ini masih termaafkan jika kita membubuhkan kata ‘mungkin’ atau ‘sepertinya’ di kalimat. 

Contoh: 

Jujur, aku ikut bersedih. Sepertinya aku tahu apa yang membuatnya sedih. Mungkin Nenek sedih karena cucu-curunya tidak pernah ada yang menemaninya. Aku juga menduga seperti ini karena Nenek sempat bercerita tentang dirinya yang kesepian.

2. Sudut Pandang Orang Kedua.

Sudut pandang orang kedua jarang digunakan dalam penulisan karya fiksi. Bahkan ada beberapa ahli yang mengatakan tidak ada sudut pandang kedua. Namun, tentu saja tidak semuanya setuju. Banyak juga para penulis yang menggunakan sudut pandang ini. Biasanya, sudut pandang kedua ditandai dengan ‘kamu, kau, elo’. 

Contoh: 

Waktu itu, kamu datang ke rumahku. Kamu tersenyum lebar sambil menyodorkan seikat bunga. Sungguh, kamu terlihat meyakinkan sehingga aku percaya tentang kata cinta. Namun sebulan kemudian, apa yang terlihat tidak seperti imajinasi. Kamu pergi begitu saja tanpa berkabar.

Penggunaan sudut pandang orang kedua memiliki kekurangan. Biasanya, pembaca susah masuk ke dalam cerita. Pembaca harus benar-benar ekstra fokus ketika membaca. Sebab, sering kali kalimat seseorang dalam dialog tertukar. 

Hal kedua yang menurutku menjadi kelemahan dari sudut pandang kedua adalah mengenai ‘kesesuaian’ antara naskah dengan kita sebagai pembaca. Novel yang menggunakan sudut pandang kedua menunjuk langsung pembaca sebagai tokoh ‘kamu’. Mau tidak mau, kita harus memikirkan seolah-olah kita adalah tokoh dalam novel tersebut. Kita dipaksa untuk menjadi ‘kamu’ padahal sebenarnya itu bukan diri kita. 

Ini memang fiksi, kita bebas berkreasi. Tetapi ketika kita sebagai penulis tidak bisa menyampaikan cerita dengan baik, tentu saja akan berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pembaca terhadap karya kita. 

3. Sudut Pandang Orang Ketiga

Sampailah kita kepada sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga ini ditandai dengan sebutan ‘dia’ atau juga bisa berupa nama. Kita sering sekali menggunakan sudut pandang ini. Ada beberapa jenis sudut pandang orang ketiga, diantaranya:

a. POV-3 Serba Tahu

Poin Of View ke-3 serba tahu sering sekali kita gunakan. Ketika kita menjadi narator dalam novel, kita seolah-olah adalah tuhan yang serba tahu. Kita tahu kegiatan seseorang di luar sana, kita tahu perasaan seseorang, dan lain-lain. 

Contoh:

Saat Rina bekerja banting tulang di kafe, Dani malah enak-enakkan tidur di rumah. Rina selalu merasa bahwa dia harus membantu sang suami. Tapi sang suami tidak pernah mengerti perasaan Rina. Lelaki itu sama sekali tidak peka kepada istrinya sendiri.

b. POV-3 Menggunakan Satu Tokoh

Ternyata, Point of View ke-3 pun memiliki jenis yang penceritaannya termasuk sempit. Kita sebagai narator konsisten menggunakan sudut pandang orang ketiga yang terfokus ke satu tokoh saja. Sementara tokoh lainnya tidak diceritakan. Narator di sini hanya mengambil sudut pandang Rina, tanpa tahu isi hati Dani.

Contoh:

Rina  datang dengan wajah datar. Rina merasa telah dipermainkan oleh Dani. Lantas, dia berteriak, “Apa yang kamu lakukan seharian?”

Dani menyesap rokok dengan santai. Dia hanya menatap ke langit-langit rumah, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia kemudian menatap istrinya. “Aku sedang membantumu, Sayang. Seharian ini, aku membantu mendoakan keselamatanmu.”

Di kalimat:  Dia hanya menatap ke langit-langit rumah, seperti sedang memikirkan sesuatu, kita sebagai narator tidak menembus pikiran Dani. Secara otomatis, kita hanya terfokus terhadap otak satu tokoh saja. Dalam hal ini adalah Rina.

c. POV ke-3 Menggunakan Dua Tokoh atau Lebih

Pernah membaca novel dengan sudut pandang dari setiap tokoh? katakanlah tokohnya adalah Rina dan Dani. Di bab satu, misal narator terfokus menceritakan Rina. Tentang dirinya, tentang perasaannya, tentang aktivitas dan lain-lain. Sementara di bab dua, narator mengambil sudut pandang Dani. Antara Rina dan Dani, mereka mungkin tidak tahu aktivitas masing-masing secara bersamaan. Namun pembaca tahu betul, apa yang terjadi dengan Rina dan Dani di sudut berbeda. Inilah yang aku maksud. Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, kita bisa menggunakan sudut pandang berbeda-beda sesuai dengan tokoh. Kebanyakan pola yang dilakukan penulis adalah selang-seling. Misal bab satu mengambil sudut pandang Rina, bab dua Dani, bab tiga Rina lagi, dan seterusnya.

APAKAH BISA MENGGUNAKAN POV CAMPURAN?

Tentu saja bisa. Selama membaca novel, aku sering sekali menemukan campuran POV 1 dan POV 3. Misal, tokoh utama menggunakan POV 1, kemudian kejadian-kejadian lain di luar tokoh ‘aku’ menggunakan POV 3. Itu sah-sah saja. Yang terpenting masih bisa diikuti dengan baik.

Nah, itulah 3 Jenis Point Of View dalam pembuatan cerita fiksi. Jika ditelisik lebih lanjut, ternyata setiap sudut pandang memiliki jenis dan bagian masing-masing. Tinggal kita sebagai penulis yang memilih dalam penggunaan sudut pandang tersebut.












Posting Komentar untuk "3 Jenis Point Of View Dalam Pembuatan Cerita Fiksi"