Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

10 Cara Memperbaiki Plot Hole Dalam Sebuah Novel

10 Cara Memperbaiki Plot Hole Dalam Sebuah Novel

10 Cara Memperbaiki Plot Hole Dalam Sebuah Novel
Wikimedia


Menjadipenulis.com – Plot hole menjadi salah satu masalah yang sering muncul di dalam sebuah novel. Plot hole sendiri bisa diartikan sebagai kekeliruan atau sesuatu yang tidak masuk akal yang ada di dalam sebuah novel. Seperti yang telah kita ketahui, novel bukan semata-mata suatu karya yang ditulis sesuka kita. Terdapat banyak penyesuaian yang kemudian menjadikan novel terasa lebih nyata, dan tentu saja berbobot. Kali ini, aku bakalan bahas cara memperbaiki plot hole dalam sebuah novel.

Plote Hole yang Sering Terjadi Di Dalam Novel

Salah satu plot hole paling sederhana dalam sebuah novel adalah ketidaksesuaian nama. Misal di awal-awal, nama si toko Rani, eh, di beberapa bagian jadi Rana. Mungkin dari segi kesalahan terbilang sederhana, tetapi effeknya besar. Perubahan nama bisa juga mengubah mood membaca. Bukan hanya itu, kita juga akan dinilai sebagai penulis yang ceroboh karena salah dalam penyebutan nama tokoh novel sendiri.

Contoh lain biasanya berkenaan dengan logika. Kita sering melihat seorang manusia saat-saat terakhir ketika akan tertabrak kendaraan, padahal kendaraan pun masih jauh. Secara logika, kita bisa menghindar secepat kilat. Namun kenapa si tokoh memilih berteriak sambil diam saja di tengah jalan? Padahal bisa saja menghindar dalam sekali gerak doang.

Contoh lain lagi nih. Misal ada seorang tokoh yang memiliki sifat lembut dan penyayang, tetapi tiba-tiba jadi kejam tanpa ada alasan. Tentu saja hal ini akan membuat pembaca bertanya-tanya. Kenapa bisa berubah? Beda halnya jika dari awal ada detail atau lanjaran tertentu yang membuat tindakan si tokoh menjadi masuk akal.

Ada contoh lain? Coba ikut komentar ya guys. Berikan contoh plot hole yang sering terjadi.

Cara Memperbaiki Plot Hole Secara Garis Besar (Eksternal)

1. Pastikan Kamu Punya First Reader

Salah satu penyakit penulis yang sering terjadi adalah: merasa tulisannya bagus dari sudut pandang sendiri. Padahal mereka bisanya lebih logis ketika membaca. Mereka lebih kritis tentang apa yang terjadi di dalam novel. Hal ini terjadi karena pembaca tidak memiliki ikatan langsung saat proses pembuatan cerita. Kenapa bisa gini? Lho, kok gini? Nah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu sangat dibutuhkan oleh seorang penulis dalam proses kreatif pembuatan novel.

2. Endapkan Naskah Setelah Menulis

Setelah kita selesai menulis, biasanya kesalahan-kesalahan itu susah terlihat. Mungkin diakibatkan oleh intensitas kita melihat naskah tersebut. Maka, kita harus terbiasa mengendapkan naskah sekurang-kurangnya satu minggu setelah penulisan. Baru, kita mulai membuka naskah, membaca ulang dan melakukan revisi terhadap hal-hal yang kurang. Coba bedakan, revisi on the spot saat itu juga, dengan revisi dalam waktu tertentu.

3. Belajar untuk Membuat Sesuatu Karena Sebab Tertentu

Kadang-kadang, seorang penulis menulis karena ego sendiri. Sebelumnya, kita bisa menciptakan sesuatu yang disadari suatu alasan kuat. Sehingga tidak ada celah atau hole yang bisa dibantah atau mungkin bisa jadi kekurangan. Misal ketika membuat setting. Kenapa harus di tempat tersebut? Hubungannya sama cerita apa? Atau misalkan ketika kamu menulis cerita thriller. Kenapa si tokoh harus menggunakan sarung tangan saat proses pembunuhan, alasannya apa? Hal-hal semacam itu harus kita ciptakan dan jawab sendiri. Hal ini bertujuan untuk menghindari plot hole yang tentu saja akan dipertanyakan oleh para pembaca jika ada. 

4. Share Cerita Ke Platform

Jujur, aku sering share cerita ke platform karena akan ada pembaca yang datang. Mereka bisa memberikan tanggapan baik, tanggapan buruk, memberi masukan, bahkan mengkritik. Di sinilah serunya. Kita bisa memperbaiki tulisan kita sambil jalan. Tujuan di-upload ke platform selain supaya diketahui banyak orang, tentu saja agar sesuatu yang tidak penulis lihat, bisa dengan gampang dilihat oleh pembaca. Mereka biasanya lebih jeli ketika membaca suatu karya.

5. Riset yang Serius

Salah satu hal yang sampai saat ini jadi PR-ku juga dalam menulis adalah riset. Kadang aku malas riset. Mungkin kamu juga. Banyak hal-hal sepele yang ujungnya jadi salah gara-gara malas riset. Misalkan: kita ingin membuat novel dengan latar kota Garut. Kita harus riset kebiasaan, bahasa, mitos, keunggulan, kebudayaan, dan lain-lain. Bayangkan jika kita salah memasukkan kebudayaan Garut di novel kita? Nah, ini termasuk plot hole. Suatu kekeliruan. Maka, riset menjadi kunci dalam meminimalisir plot hole. 

Bagaimana cara riset untuk penulisan karya? Bisa baca buku, bisa mewawancarai ahli, bisa pula berkunjung langsung ke tempat yang misalkan ingin diangkat di novel kita.

Cara Memperbaiki Plot Hole Secara Khusus (Internal) 

6. Jangan Selalu Bergantung Kepada ‘Kebetulan’.

Mungkin banyak di antara para penulis yang bilang begini jika ada reader yang protes: “Terserah aku dong, mau bikin kebetulan kek, mau tiba-tiba kek, ini kan cerita buatan aku sendiri? Lagian, ini cerita fiksi.”

 Kalau dipikir-pikir, benar juga ya? Tapi sebagai penulis justru kita harus tahu bahwa komentar reader adalah bentuk perhatian demi novel kita. Masih mending ada reader yang mau peduli. Bayangkan jika mereka hanya membaca tanpa memberi komentar.

Jika ada suatu kejadian, usahakan kejadian itu beralasan. Jangan hanya karena kebetulan semata. Misal: seorang cewek kebetulan ketemu cowok di kafe. Kenapa mereka bisa ada di kafe yang sama dalam waktu bertepatan? Sedangkan kafe di daerah itu bisa ratusan. Kamu bisa memasukkan alasan yang jelas. Misal si cowoknya adalah pemilik kafe yang didatangi si cewek. Sehingga peluang bertemu menjadi lebih besar.

7. Pastikan Karakter Tokoh di Novelmu Konsisten

Di antara masalah yang sering ada dalam pembuatan novel, karakter menjadi salah satu masalah yang paling sering muncul. Misal, si tokoh A sifatnya pendiam, tiba-tiba di suatu waktu jadi banyak omong. Padahal nggak ada alasan yang jelas. Atau, si A adalah manusia biasa, eh, tiba-tiba jadi punya kekuatan. Hal semacam ini terasa wajar. Tetapi justru menjadi hal yang nggak logis. Harus ada lancaran dari awal kalau memang si tokoh diharuskan seperti itu.

8. Memberikan Penanda Waktu

Penanda waktu cukup penting dalam penulisan novel. Jika tidak mengganggu plot, apa salahnya menambahkan penanda waktu dalam setiap bab yang dituliskan? Kadang, suka ada novel yang dituliskan di dua kejadian berbeda. Misal selang seling antara masa lalu dan masa sekarang. Sebisa mungkin, kita harus memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang hal-hal yang terjadi. Penanda waktu itu bisa berupa hari, bulan, tahun, dan lain-lain.

9. Pastikan Kamu Menuliskan Karakter dan Ciri Fisik Dengan Benar

Ini juga sering terjadi. Ada orang yang menuliskan si tokoh yang memiliki badan ramping. Eh, di situasi lain dijelaskan bahwa badan si tokoh gendut. Jelas ini tidak konsisten dan termasuk plot hole. Biasanya, kekeliruan seperti itu terjadi karena penulis lupa akan ciri dan karakter tokohnya.

10. Pastikan Tokoh Novelmu Berguna

Kamu pernah menulis novel dengan toko bejibun dan nggak berguna untuk kelanjutan cerita? Itu juga termasuk plot hole. Maka, pastikan tokoh yang dimasukkan benar-benar penting. Bukan hanya tokoh tempelan yang tidak memberikan effek terhadap keberlangsungan cerita.

Nah, itulah 10 Cara Memperbaiki Plot Hole Dalam Sebuah Novel. Ingat, semakin bersih naskahmu dari plot hole, semakin cerdas kamu sebagai seorang penulis. Semoga bermanfaat dan salam literasi.


Posting Komentar untuk "10 Cara Memperbaiki Plot Hole Dalam Sebuah Novel"