Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel

Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel

Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel
Pixabay.com


Menjadipenulis.com – Salah satu hal yang mempengaruhi ciri khas penulisan novel adalah gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan salah satu unsur dalam penulisan novel. Gaya bahasa sendiri adalah cara penulis menuturkan cerita dari awal sampai akhir. Tentu saja, gaya bahasa ini mempengaruhi disukai atau tidaknya sebuah novel. Ini disebabkan karena apa pun yang disampaikan tidak pernah lepas dari gaya bahasa yang penulis gunakan. Maka sebagai penulis, kita perlu mengetahui Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel.

Dalam penulisan novel, ada gaya bahasa alami yang dimiliki penulis. Saya tidak bisa menyebutkan seperti apa gaya penulisan setiap penulis. Namun biasanya, setiap penulis punya ciri khas yang berbeda dari penulis lain. Misal, ada penulis yang menonjolkan gaya bahasa metafora. Ada pula penulis yang lebih suka menggunakan kalimat ringan, tetapi ada gaya perbandingan di beberapa paragraf. Dan berbagai gaya lainnya. Hal ini-lah yang disebut gaya bahasa alami. Secara teori memang ada macam-macam gaya bahasa, tetapi secara eksekusi, jelas tiap penulis memiliki cara masing-masing. 

Sementara, ada gaya bahasa yang memang diatur oleh si penulis saat proses penulisan. Hal ini bertujuan agar naskah yang ditulis memiliki kedalaman yang berbeda dengan naskah-naskah lainnya. Biasanya, perubahan gaya bahasa ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Setidaknya, beberapa poin di bawah ini akan mempengaruhi Ciri Khas Dalam Penulisan Novel.

1. Gaya Bahasa Dipengaruhi Latar Belakang Tokoh

Perbedaan gaya bahasa yang dipengaruhi oleh latar belakang tokoh biasanya sering terjadi dalam dialog. Ada ciri-ciri tertentu yang disisipkan penulis terhadap masing-masing tokoh. Hal ini bertujuan untuk membedakan setiap orang yang menjadi tokoh novel kita. Contoh, misal ada salah satu tokoh yang berasal dari Sunda. Bisa saja penulisnya memasukkan aksen Sunda di perkataan si tokoh. Hal ini bertujuan untuk menambah rasa. Sehingga dialog yang tercipta terasa nyata dan real. 

Nah, kalau menurut saya, hal semacam ini menjadi kewajiban bagi penulis. Di sisi punya gaya bahasa khas, penulis juga harus mampu mereka gaya bahasa sesuai dengan tokoh yang ada. Ketika gaya berbicara tokoh sama (yang dalam hal ini disampaikan oleh penulis), tentu saja pembaca akan susah membedakan. Akibatnya, rasa yang disampaikan pun biasanya kurang nyes di hati.

2. Gaya Bahasa Dipengaruhi Oleh Point of View

Tutur atau gaya bahasa bisa dipengaruhi oleh Point of View atau sudut pandang. Dalam penulisan karya fiksi, tentu saja kita sering mendengar bahwa di dalam penulisannya, ada POV 1, 2, dan 3. Nah, pendekatan masing-masing Poin of View ini bisa jadi berbeda.

Penuturan penulis ketika sedang menggunakan Point of View ke tiga pasti berbeda dengan penuturan menggunakan Point of View pertama. Dalam menggunakan POV pertama, si tokoh yang berbicara secara langsung. Sementara penulis hanya menuliskan apa yang tokoh sampaikan. Bukan berarti penggunaan POV satu membuat si tokoh berjalan sendiri. Hanya saja, di sini, gaya bahasanya akan mengikuti karakter tokoh, kebiasaan tokoh, dan lain-lain. Sementara POV ke-tiga, penulis bisa jadi ‘tuhan’ dalam mengatur apa saja yang akan terjadi kedepannya. 

3. Gaya Bahasa Bisa Dipengaruhi Oleh Karakter Tokoh

Kebanyakan perbedaan gaya bahasa ini akan terlihat di dialog (kecuali yang pakai POV satu a.k.a aku, saya, gue, dll). Salah satunya adalah gaya bahasa yang dipengaruhi karakter tokoh. Cara bertutur orang dalam sebuah novel akan berbeda-beda berdasarkan karakter. Misal kalau karakter tokohnya tegas, ucapannya pun akan terkesan to the point. Pun karakter lainnya. Di sini adalah tugas penulis untuk bisa menghadirkan perbedaan-perbedaan antar tokoh ini. Kalau di poin satu mengenai latar belakang tokoh, maka kita juga harus mengombinasikan dengan karakter tokoh yang ada. Cara seorang pemabuk bertutur mungkin akan berbeda dengan cara orang biasa bertutur. Jadi ya, ini kembali kepada penulis untuk bisa secara cerdas memasukkan ciri-ciri tertentu yang sesuai dengan karakter si tokoh.

Intinya, setiap penulis punya cara masing-masing dalam menuturkan sesuatu. Ada pula yang diatur ketika proses penulisan seperti yang telah saya sebutkan di atas. Namun, ciri khas dalam gaya penulisan pun tidak didapatkan secara mendadak. Di dalamnya ada proses yang tidak sama antara penulis yang satu dan lainnya.

Saya masih ingat gaya penulisan saya 2014 tahun. Pada masanya, saya bahagia karena merasa hebat bisa menuliskan suatu cerpen. Kemudian, saya iseng membukanya di tahun 2020. Apa yang terjadi? Saya merasa bahwa dulu gaya penulisan saya sangat ‘nggak banget’ karena beberapa hal. Entah dari pemilihan diksi, tanda baca, tata bahasa, dan lain-lain. Jauh berbeda dengan gaya penulisan saya di tahun 2020.

Hal ini menggambarkan bahwa gaya bahasa terbentuk berdasarkan proses, waktu, dan jam terbang. Mungkin setiap saat gaya bahasa akan berubah dari waktu ke waktu. Hingga kita benar-benar mengenali gaya bahasa sendiri yang dirasa ‘aku banget’. Meskipun mungkin kita nggak sadar dengan gaya bahasa tersebut. Biasanya pembaca setia kita yang bakal tahu bagaimana gaya penulisan kita.

Nah, itulah Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel. Menurut saya sendiri, lima puluh persen dari sebuah novel adalah gaya bahasa. Bayangkan saja. Kalau kita sudah punya tema keren, sudah punya bahan bagus, unik, eh  gaya bahasanya membosankan. Siapa yang akan baca? Tentu saja, ini harus jadi perhatian penulis juga dalam membuat sebuah novel.

Posting Komentar untuk "Cara Agar Memiliki Ciri Khas Dalam Penulisan Novel"