Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Cara Menentukan Tema Sebuah Novel

3 Cara Menentukan Tema Sebuah Novel

3 Cara Menentukan Tema Sebuah Novel
Pixabay.com

Menjadipenulis.com – Proses kreatif dalam penulisan novel sangatlah panjang dan rumit. Kebanyakan orang selalu memikirkan bagaimana cara agar sebuah novel yang ditulis bisa dibaca dan dikenal banyak orang. Mereka dengan susah payah melakukan berbagai marketing. Semua yang saya sebutkan barusan tidak salah. Malahan bagus ketika seorang penulis memiliki keahlian di bidang pemasaran. Selain menulis, tentu saja, pemasaran juga menjadi hal yang bisa menunjang proses penyebaran novel itu sendiri. Namun, saya ingin sedikit mundur ke belakang sebelum buku-buku itu jadi. Ini tentang menentukan tema sebuah novel atau tulisan. Apakah tema sebuah novel itu penting?

Jawabannya, penting. Sebab, ketika kita berhasil menentukan tema novel yang akan ditulis, maka akan ada hal lain yang juga ikut terseret. Dari mulai jenis pembaca novel kita, potensial dalam penjualan atau tidak, potensial untuk diangkat ke medium lain, dan lain sebagainya. Itu semua secara tidak langsung berkaitan dengan proses promosi ketika novel sudah jadi.

Wah, ternyata bisa nyambung seperti itu ya? Jelas. Makannya, menentukan sebuah tema novel itu bukan hal yang main-main. Ada berbagai hal yang harus diperhatikan ketika menuliskan sebuah novel. Supaya tidak bingung, akan saya uraikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat menentukan tema sebuah novel. 

1. Kita Bisa Memilih Tema Sesuai Dengan Bakat dan Minat

Memilih tema berdasarkan kesukaan akan membuat kita lebih bersemangat dalam menuliskan sebuah novel. Banyak orang yang mandeg ketika menulis karena salah dalam memilih tema novel. Sebaliknya, ketika seseorang sangat suka, bahkan berbakat di bidang tersebut, orang tersebut akan cenderung lebih siap dengan segala risiko saat proses penulisan. Saya ambil contoh nih. Seseorang sangat berbakat dan berminat di bidang basket. Bisa saja, dia mengambil tema tentang olahraga basket untuk novelnya. Ada keuntungan tersendiri saat menulis. Pertama, penulis tidak akan terlalu banyak riset karena sudah tahu secara mendalam. Kedua, prosesnya pun tidak akan lama karena penulis sudah mengetahui cara nge-klik novelnya.

Lantas, bagaimana jika seseorang berminat membahas sesuatu, tetapi tidak berbakat di dalam bidang itu? Ini adalah pertanyaan menarik. Tidak semua orang yang berminat pada satu hal, berbakat juga di bidangnya. Misal, saya berminat terhadap musik, belum tentu saya berbakat dalam memainkan alat-alat musik. Hal ini membuktikan bahwa ketika menulis novel, ada proses belajar di dalamnya. Kita bisa melakukan riset yang mendalam mengenai bidang yang kita minati tersebut. Hanya saja, kita harus lebih siap dalam proses riset ini.

Contoh, saya akan mengangkat tema musik dalam novel saya. Terutama tentang vokal dan alat musik. Saya tidak bisa bernyanyi, tidak tahu nada, tidak tahu jenis suara manusia. Saya juga tidak bisa memainkan alat musik. Secara otomatis, saya akan melakukan riset secara mendalam tentang hal tersebut. Meski secara praktek saya tidak bisa, minimal saya tahu semua teori yang bisa dimasukkan ke dalam  novel. Syukur-syukur kita juga bisa secara prakteknya. Dengan begitu, tema yang kita angkat akan lebih nyambung dengan apa yang ada secara nyata. Bayangkan saja. Misal saya mengangkat tema musik untuk novel saya. Kemudian novel saya dibaca oleh pemusik. Kalau seandainya kita melakukan riset dengan baik, pasti akan diterima dan diapresiasi. Tapi bagaimana jika tidak riset dan hasilnya tidak masuk akal? Bagus banget kalau karya kita dikritik membangun. Nah, kalau di-bully? Kan kita sendiri sebagai penulis yang malah down.

Maka, ini semua dikembalikan kepada kita. Pemilihan tema sesuai minat dan bakat akan membantu kita dalam proses penulisan. Selanjutnya, jika memang kita berminat dalam suatu bidang, tetapi tidak berbakat di bidangnya, atau bahkan tidak faham sama sekali, kita harus siap untuk melakukan riset yang mendalam.

2. Perhatikan Selera Pasar

Apakah selera pasar itu penting? Mungkin iya. Mungkin tidak. Kenapa saya bilang begini? Karena tidak semua orang menulis untuk dibaca banyak orang. Mungkin ada beberapa penulis yang menulis untuk kalangan tertentu saja. Ada orang yang menulis untuk kalangan remaja saja. Ada orang yang menulis untuk kalangan yang tertarik terhadap isu psikologi, dan lain sebagainya. Nah, kita tinggal tanya diri kita sendiri. Kita nulis untuk siapa? Apakah untuk semua orang?

Perlu diingat. Apa pun yang kita ciptakan, tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Setiap orang punya ketertarikan tersendiri terhadap suatu hal. Maka dari itu, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengikuti selera pasar. Mengikuti selera pasar bukan berarti melepaskan prinsip kita sebagai penulis ya. Tapi ada kompromi antara ide kita dan juga selera pasar di Indonesia. Dengan begitu, jangkauannya bisa lebih luas.

Anggap saja selera pasar kita menjulur ke novel-novel percintaan remaja. Nah, kita bisa mengkombinasikan hal yang kita minati dengan selera pasar ini. Misal, kita berminat membahas isu psikologi di kalangan remaja. Kenapa nggak nyoba mengkombinasikan isu psikologi dengan percintaan remaja? Jadinya bisa lebih diterima oleh orang-orang kebanyakan. 

Kalau tujuan kita memang ingin diserap sebanyak mungkin orang, ya berarti kita harus bisa berkompromi dengan penomena yang ada di dunia perbukuan kita. Kalaua seandainya tujuanmu menulis bukan karena ingin dibaca banyak orang, tidak masalah untuk tidak mengikuti selera pasar ini. Toh tiap orang punya pilihan masing-masing.

3. Kita Bisa Memilih Tema yang related Dengan Kehidupan

Salah satu alasan sebuah novel disukai pembaca adalah tema novel yang diangkat related dengan kehidupan mereka. Seseorang menangis gara-gara ikut merasakan perasaan si tokoh yang broken home. Seorang istri bisa menangis gara-gara ikut merasakan si tokoh yang diselingkuhi suaminya. Seorang suami bisa tiba-tiba berubah menjadi perhatian gara-gara membaca sebuah novel. Dan ini semua disebabkan oleh tema yang diangkat (salah satunya). 

Bagi kita yang baru awal-awal di dunia menulis. Kita tidak harus pusing mencari tema yang mau diangkat. Bahkan kita bisa mengangkat tema yang kita alami sendiri. Tentang konflik keluarga, tentang percintaan remaja, tentang konflik batin menjadi anak sulung misalkan. Banyak sekali hal yang sebenarnya sederhana, tetapi mampu menyedot perhatian orang banyak.

Bagaimana cara menemukan tema yang related? Salah satunya adalah melatih kepekaan. Penulis memang harus bisa menganalisis sekecil apa pun suatu kejadian. Hal ini akan membantu kita menemukan ide-ide brilian yang kelak akan dituliskan.

Nah, itulah 3 Cara Menentukan Tema Sebuah Novel. Yuk, bangun kreativitas kita bahkan dari sejak kita belum mulai menulis. Salam literasi, dan mari berkarya.
 

Posting Komentar untuk "3 Cara Menentukan Tema Sebuah Novel"